Perasaan itu muncul kembali,setelah hampir 6 tahun lamanya. Perasaan stress dan terpuruk,merasakan tidak kuat untuk menjalani semuanya. Belum sampe seminggu perasaan itu meledak seperti yg trjadi 6 thun lalu. Berbeda dngan yg lalu,sekarang ada yg melihat ledakan itu dan ikut merasakan. Enam thun lalu,perasaan itu datang krna stress akan pekerjaan pertama ane. Setelah beberapa bulan bekerja dibawah tekanan yg tinggi, ane ga kuat ngejalaninnya. Ane cma bsa diam dan nangis di kamar kos, dan bertanya padaNya, kenapa Dia berikan hidup yg seperti itu. Keadaan stress sperti itu skrg terulang kembali. Saat pekerjaan yg sekarang tidak berjalan baik dan begitu banyak masalah yg dihadapi bahkan lebih banyak dripada saat enam tahun lalu, ane gatau lgi hrus apalagi. Meledaklah perasaan stress itu lgi. Sekarang perasaan itu membuat rugi banyak orang. Keluarga saya mengira saya sudah gila. Saya seakan musuh nomor 1 dirumah sndri. Saya mengecewakan mereka. Saya tidak seperti yg diharapkan mereka. Mereka bingung kenapa saya bisa berucap sperti itu. Mereka kaget akan tingkat stress yg saya alami. Rasa putus asa itu muncul kembali. Tpi kali ini saya mengecewakan mereka.
Hal itu berakibat cukup berat buat saya untuk berikutnya. Penilaian mereka ttg saya berubah besar. Saya sedang perang dingin dngan adek sya krna hal itu. Tidak satu katapun keluar dri dia stelah kejadian itu. Saya benar2 memikirkannya sekarang.
Apakah saya salah meledak seperti itu stelah stress saya sangat tak bisa tertahan?
Apakah saya salah marah kepada diri saya sendiri krna tidak bisa menjadi yg diharapkan mereka?
Di setiap kesempatan bertemu dngan saudara,mereka bilang saya hebat ini itu, mereka memberi saya beban itu, beban pengganti bapak. Tetapi ketika saya tidak bisa menjalani itu, saya stress sma kerjaan yg sperti ini, yg jelas bkan keahlian saya, ketika segala macam masalah dteng, lantas mereka lngsng menyalahkan saya krna itu?
Ya, yg jelas adek saya menyalahkan saya krna tlah menyakiti perasaan mama saya.
Apa ketika saya berada di rumah saya sendiri,saya tidak bisa meluapkan perasaan saya sndri?
Apa dengan meluapkan itu smua berarti saya telah mengecewakan mereka?
Apa setelah ini saya harus memendam semuanya seperti yg enam tahun lalu saya lakukan di kosan?memukul tembok?menjedotkan kpala sya ketembok berulang kali?menyalahkan Dia?
Tuhan,tolong anakMu ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar