Jumat, 13 Desember 2013

Yg sekarang terjadi...

Perasaan itu muncul kembali,setelah hampir 6 tahun lamanya. Perasaan stress dan terpuruk,merasakan tidak kuat untuk menjalani semuanya. Belum sampe seminggu perasaan itu meledak seperti yg trjadi 6 thun lalu. Berbeda dngan yg lalu,sekarang ada yg melihat ledakan itu dan ikut merasakan. Enam thun lalu,perasaan itu datang krna stress akan pekerjaan pertama ane. Setelah beberapa bulan bekerja dibawah tekanan yg tinggi, ane ga kuat ngejalaninnya. Ane cma bsa diam dan nangis di kamar kos, dan bertanya padaNya, kenapa Dia berikan hidup yg seperti itu. Keadaan stress sperti itu skrg terulang kembali. Saat pekerjaan yg sekarang tidak berjalan baik dan begitu banyak masalah yg dihadapi bahkan lebih banyak dripada saat enam tahun lalu, ane gatau lgi hrus apalagi. Meledaklah perasaan stress itu lgi. Sekarang perasaan itu membuat rugi banyak orang. Keluarga saya mengira saya sudah gila. Saya seakan musuh nomor 1 dirumah sndri. Saya mengecewakan mereka. Saya tidak seperti yg diharapkan mereka. Mereka bingung kenapa saya bisa berucap sperti itu. Mereka kaget akan tingkat stress yg saya alami. Rasa putus asa itu muncul kembali. Tpi kali ini saya mengecewakan mereka.
Hal itu berakibat cukup berat buat saya untuk berikutnya. Penilaian mereka ttg saya berubah besar. Saya sedang perang dingin dngan adek sya krna hal itu. Tidak satu katapun keluar dri dia stelah kejadian itu. Saya benar2 memikirkannya sekarang.
Apakah saya salah meledak seperti itu stelah stress saya sangat tak bisa tertahan?
Apakah saya salah marah kepada diri saya sendiri krna tidak bisa menjadi yg diharapkan mereka?
Di setiap kesempatan bertemu dngan saudara,mereka bilang saya hebat ini itu, mereka memberi saya beban itu, beban pengganti bapak. Tetapi ketika saya tidak bisa menjalani itu, saya stress sma kerjaan yg sperti ini, yg jelas bkan keahlian saya, ketika segala macam masalah dteng, lantas mereka lngsng menyalahkan saya krna itu?
Ya, yg jelas adek saya menyalahkan saya krna tlah menyakiti perasaan mama saya.
Apa ketika saya berada di rumah saya sendiri,saya tidak bisa meluapkan perasaan saya sndri?
Apa dengan meluapkan itu smua berarti saya telah mengecewakan mereka?
Apa setelah ini saya harus memendam semuanya seperti yg enam tahun lalu saya lakukan di kosan?memukul tembok?menjedotkan kpala sya ketembok berulang kali?menyalahkan Dia?

Tuhan,tolong anakMu ini...

Rabu, 04 Desember 2013

Atas dan Bawah

Atas dan Bawah

Malam ini,saya termenung melihat keadaan yg ada di sekeliling saya. Keadaan yg memberikan nilai berharga dalam hidup saya.
Sudah hampir setahun ini saya menggeluti pekerjaan yg bisa dibilang tidak biasa dalam pengalaman hidup saya,semua benar2 baru. Dengan pekerjaan ini banyak nilai yg saya dapat,yg tidak saya dapat dlm pekerjaan saya sblumnya,bahkan dlm kuliah yg saya alami. Pekerjaan ini mengajarkan bagaimana saya hrus menghadapi org banyak,menghadapi anak buah,menghadapi berbagai macam sifat msing2 org,memahami jalan pikiran mereka. Terkadang emosi bisa meledak jika dipancing, terkadang saya takut karena menghadapi bnyak org. Berteman dengan kuli, org2 di kampung yg "kurang pintar", para ketua RT/RW, para preman2 kampung, ormas2, dan bnyak lain yg tdak prnah saya bayangkan sblumnya. Keadaan inilah yg membuat saya mnjdi lbih berani,berani menghadapi org,berani mengambil keputusan,berani menghadapi resiko yg ada. Kemampuan itu terbentuk dngan pengalaman yg ada di lapangan. Itulah kerjaan sebagai kontraktor kecil2an yg hrus menghadapi keadaan lapangan yg tdak bsa ditentukan.
Disini saya ingin mengungkapkan bahwa ada jarak yg begitu jauh atau kesenjangan yg ada antar masyarakat. Saya menghadapi itu semua,saat bekerja saya berteman dengan kuli,mreka memanggil bos,wlaupun umur saya msih jauh dbwah mreka,kuli yg bekerja siang malam hanya untuk mndpatkan 100rb shari,itupun hanya jika ada proyek. Tidak ada bonus, jaminan kesehatan,thr.

Tpi dngan bergaul dngan mereka,saya menjadi mengerti apa arti hidup itu. Karna di sisi lain,saya jg bergaul dngan bagian "Atas" yg rata2 bersifat hedonisme.
Ya,mereka yg saya kenal lbih lama dripda kuli kuli tdi. Melihat mereka di jejaring sosial,sungguh "wah" sekali. Sesekali mereka berada di restoran mewah yg satu piring nasi goreng dihargai 35rbu,padahal banyak dipinggir jalan cma dihargai 10rb,dngan harga yg tdak klah enaknya.
Sesekali saya menikmati pizza dengan teman2 "wah" ini, tpi dilain waktu saya menikmati singkong rebus bersama kuli dan warga di proyek yg saya kerjakan.
Sesekali sya minum kopi liong bersama tman tman kuli saya,kopi item yg berampas,yg saya rasa nikmatnya tdak klah dngan espresso yg diminum teman2 di "jejaring sosial" itu yg harganya 40rbu segelas kcil, yg dminum smpe siang biar bsa ngrasain wifi dri yg jual tuk kopi.
Kedua keadaan tersebut memang nikmat, keduanya membuat saya bnyak belajar. Saya hidup di dua keadaan yg sangat berbeda.
Ketika saya membuka jejaring sosial,saya berpikir betapa beruntungnya mereka bisa menikmati itu semua,wlaupun untuk menikmati itu semua butuh biaya yg tidak sdikit. Tetapi ketika saya sedang bersama teman2 kuli saya,yg hanya bsa makan singkong rebus,minum kopi liong,itupun disediakan warga skitar di tmpt proyek yg kita kerjakan,saya jg merasakan apa yg namanya kenikmatan itu sndiri,wlaupun tdak kluar biaya besar. Jujur saja, saya lbih merasakan kebersamaan itu.

Atas Bawah ini sangat jauh kesenjangannya, tpi smua itu ttap berasa nikmat. Saya bersyukur bisa melihat dua keadaan yg sangat berbeda ini tapi ttap merasakan kenikmatan trsndiri.
Jika hrus memilih, saya lbih menikmati makan singkong rebus,minum kopi liong ketika kumpul2. Hal ini sangat sering terjadi 4-5 thun lalu, bersama tman2 saya di Semarang, kumpul2 mkannya ayam yg dbakar sndri,singkong yg dbkar sndri,jagung yg dibakar sndri, tak perlu pizza, ramen, ataupun kentucky untuk "cemilan" saat ngumpul, tak perlu ke mall,mnum cappucino seharga 30rb, hanya perlu nongkrong di wedangan,mkan nasi kucing + susu jahe.

Kehidupan yg sederhana itu lbih indah, tak peduli ada di Atas atau di Bawah, tetaplah sederhana.